Awal mula ketidakjujuran yaitu ketika tidak saling terbuka, berakhirlah pada penyesalan dan doa. 

Suatu ketika di sebuah burjo-an (sebuah warung makan sekaligus tempat nongkrong) ada seorang anak datang dengan membawa sebuah backpack nongkrong dan memesan satu menu minuman sederhana. 

(..Sebelumnya ijinkan aku bercerita tentang warung ini, pertama nama nya "burjo jogja". Terletak disalah satu daerah di Sleman barat. Selain menyediakan beraneka macam menu makanan dan minuman, ada juga fasilitas wifi gratis dan area Play Station di lantai dua. Menariknya agar pelanggan dapat mengakses wifi gratis, pelanggan diharuskan untuk mengisi kode semacam pasword yang diberikan dalam bentuk voucer yang dituliskan pada secuil kertas HVS kecil. Kertas tersebut didapatkan melalui setiap pebelian makanan/ minuman dan hanya memberikan akses pemakaian wifi selama 2/3 jam setiap voucer nya...)

Ketika anak itu selesai memesan dan masih berada di kasir, ia pun menerima voucher kode atau pasword wifi yang diberikan oleh seorang karyawan yang bertugas di kasir. Dan setelah sepotong kertas kecil itu diterima tangan kanannya, ternyataaa ada DUA lembar kertas. Yap, memang biasanya pada setiap pembelian hanya diberi satu lembar saja. 

Lalu, apa yang dilakukan anak itu? ternyata ia diam-tanpa menyampaikan kepada karyawan bahwa itu berlebih. Itulah awal mula ketidakjujuran itu,


(...ijinkan aku bercerita kembali mengenai pengalamanku sebelumnya, dulu aku pernah mengerjakan tugas disini.  Sambil membawa tas dan berpakaian rapi setelah memesan satu menu, karyawan menanyaiku "pakai laptop juga?", ku jawab iya dan dengan kebaikan hatinyakaryawan tersebut memberiku voucer tambahan agar aku dapat mengakses melalui HP DAN LAPTOP...)


Ya begitulah, anak itu bukan atau mungkin belum menjadi anak yang jujur. Karakter yang baik terlihat pada tindakan spontan walaupun itu sebuah tindakan yang kecil. Dan dapat dibentuk melalui tindakan-tindakan kecil agar kita terbiasa.

Maka, alangkah baiknya jika anak itu secara terbuka menyampaikan pada karyawan kasir bahwa ia menerima jumlah voucer yang berlibih atau kelebihan satu. Secara tidak langsung tindakan anak itu bisa jadi memakan sepotong hak orang lain. Yang jika dibiasakan-dan terbiasa seperti itu semua HAK bisa saja hilang. 

Semua hal diatas sudah terlanjur terjadi dan kemungkinan terbaiknya yaitu rasa penyesalan, permintaan maaf, mendoakan sebaik-baiknya doa, dan penebusan dengan cara lain jika cara yang sama tidak mungkin dilakukan.