Ketidakmampuan 


Tuhan kali ini apa yang kau sisipkan padaku, 
Merasa kesulitan walau hanya sekedar memandang.

Angin,
Ketika angin sungkan pada pantai,
Ombak tak akan memakannya habis,
Sebab banyak roda yang berputar disana,
Sebagai poros.


Apakah kamu pernah melihat jejak kaki manusia dan ombak?
Mereka seperti melukis pada kanvas baru, setiap waktu.


Ombak,
Ombak membawa pantulan cahaya putih ke tepian,
Untuk sejenak atau lebih lama, sangatlah menyilaukan,
Lain halnya yang terbentang pada bola matamu,
Itulah gambaran, gemuruh, dan getaran.


Cuaca,
Cuaca pagi tak sesejuk yang direncanakan,
Sebab matahari menjadi terik berkat kelalaianku.
Maaf perihal kesilauan dan ketidakmampuan,
Kumohon jadikanlah sore sebagai harapan terbaru,
Jika tidak, malam yang akan menyimpannya,
Kala itu,
saat aku mulai beranjak pergi.


Pulang,
Dengan fisik lelah dan teringat akan rumah, 
Berbagai peristiwa terjadi lain halnya dari fenomena alam.
Bisa dibilang ini adalah sebuah musibah seseorang dalam perjalanan.
Tak perlu khawatir, sebab engkau menggenggam erat keyakinan itu,  
Didalamnya tersimpan harta reruntuhan dunia,
Wahai Tuhan, terimakasih atas apa yang engkau berikan,
Didalam hati kami, hatiku sendiri.


Guncangan,
Sebuah berita telah tersampaikan,
Mengingatkan bahwa sehari telah berlalu,
Apa kabar pagi, 
Jika baik, maka kamu tak perlu risau lagi,
pada guncangan yang menyapa dataran,
Sebab itulah cara ia menyampaikan pesan.

Namun, jika hatimu sedang tak senang,
Ajaklah aku untuk segera pulang,
Sebab rumah adalah tempat yang paling indah,
Bagi mereka yang terkejut ketika dunia tiba-tiba berubah,
Ingatlah, rumah masihlah sama,
Menawarkan rasa nyaman hingga kamu tertidur,
Memberimu 'atap' hingga kamu dapat berteduh,
Membentangkan 'dinding' agar kamu tak menjadi dingin,
Begitulah setiap rasa tercipta didalam hati, didalam rumah itu,
Dan tuhan adalah sebaik-baik rumah.


(Yogyakarta, 31 Januari / 1 Februari 2025)