Tahun 2024 telah memakan sebagian besar dirinya. Sama halnya, penghujung september ini, aku sebagai mahasiswa semester lima di salah satu universitas negeri di kota Gudeg, juga tengah berusaha menikmati waktu yang tersaji di pelataran meja makan kehidupan. Salah satunya dengan menjalani hiruk pikuk keseharianku. 

Sore itu, sepulang kuliah, hatiku terdorong oleh panggilan ajakan dari seseorang melalui perantara pengeras suara masjid. Mari menunaikan salat! italah panggilan ketika tuhan menunggu kedatangan kita. Dengan niat menyambut-Nya, langkahku terseret menuju masjid dekat kampusku. Setelah urusan selesai, aku duduk di tangga samping masjid. Selang setelah sepasang sepatuku terpakai, halaman masjid telah dipenuhi manusia dengan berbagai aktivitasnya. Jika memperhatikan apa yang dikenakan, sebagian dari meraka memakai jersey olah raga. Aku lihat beberapa tidak tertuju kedalam masjid tetapi pada orang-orang dengan aktivitas yang dilakukan disamping timur masjid itu. Mereka berlatih panjat tebing pada dinding yang berdiri memiring setinggi pohon kelapa. Kupikir memang rutinan mereka, karena tidak hanya sekali-dua kali, sebelumnya pun sering melihat mereka dengan aktivitas sama. 

Kutengokkan pandangan ke arah selatan, sebagian yang lain ada yang mengarah ke lapangan sepak bola (sebelah selatan arena latihan panjat tebing). Aku pun beranjak mendekati lapangan dan duduk disampingnya. Entah apa yang kuinginkan saat itu, tapi memandangi mereka beraktifitas seolah-olah menarik diriku untuk ingin terjun didalammnya. Akan tetapi, kala itu tak kubiarkan diriku terjun dengan melihat bajuku yang berkerah rapi, memakai sepasang sepatu kasual, dan backpack abu-abu dipundak, sebuah outfit rutinan untuk kuliah. Kuputuskan hanya ingin kulihat dan amati mereka dengan jarak yang lebih dekat.


Kedua jarum jam tanganku terus berdetik dengan kecepatan yang tidak sama namun geraknya pasti. Jarum pendeknya ada dibagian bawah dan jarum panjang diatasnya, ya saat ini pukul 17.03. Jika diingat-ingat ini adalah kali kedua aku duduk memandangi ramainya lapangan, menghabiskan bekal yang dibawakan ibu sambil bersantai. Ya ibuku selalu berusaha menitipkan bekal entah itu hanya menu sederhana tapi setidaknya mampu mengganjal perutku ketika lapar. 

Baik, kembali ke arah lapangan, disana banyak anak kecil bermain bola, dibagian utara (mungkin 1/4 luas lapangan). Dua yang lebih dewasa saling oper bola dibagian tengah agak timur lapangan. Oh iya, bolehkah aku jelaskan latar tempat secara gamblang? saat ini aku berada di sebelah Utara Gor Klebengan atau Utara kampus Universitas Negeri Yogyakarta atau Utara Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada). Lanjut yaa, 

Dalam sedikit pandangan kecil, ada satu hal yang menggelitik pikiranku, yaitu ketika asik mengamati kesibukan mereka, tiba-tiba terdengar suara yang bersumber dari salah satu anak berperawakan gempal misuh. Sambil menatap ke arah tanah seolah 'kata mutiara hitam' diberikan pada sekitar,"...Bajingannn!!". Suara itu terdengar spontan dari anak yang kulihat sedang makan jajanan di pinggir lapangan. Dari raut mukanya tidak seperti sedang menunjukan emosi amarah berlebihan melainkan sebuah kekesalan. Kulihat dengkulnya (lutut) terkena bola yang ditendang temannya, yang membuat makanan yang ia pegang (seperti pentol dibungkus kertas) jatuh ke tanah. Ahh, kurasa itu dapat menjawab mengapa sebuah kata kotor keluar dari mulut anak itu secara spontan (uhuy). Ya begitulah, ia tidak marah berkepanjangan, malah mengijinkan makanannya dimintai teman-temannya termasuk yang menendang bola itu ketika datang sambil meminta maaf. 

Jawaban yang kucoba jawab sendiri dari pertanyaan yang muncul, mengapa hal itu terjadi?, mungkin karena meskipun terjatuh ketanah, makanannya masih terselamatkan dan dengkulnya tidak mengapa. Anak yang baik walaupun sedikit 'kasar' batinku.   

 
Sambil tersenyum merenung, ingatanku terketuk dengan membawa nampan berisi kue dan sepaket pisau berbentuk model Tahap Penerimaan yang pernah dikemukakan oleh Elisabeth Kübler-Ross (1969). Bu Kübler menyatakan bahwasanya ada lima tahap emosional yang dialami individu saat menghadapi kenyataan atau peristiwa besar dalam hidup seperti kehilangan. Tahap pertama yaitu denial (penyangkalan), diikuti dengan tahap anger (kemarahan), bargaining (tawar-menawar), depression (depresi), dan akhirnya acceptance (penerimaan). Namun, bu kubler juga menyatakan bahwa proses ini tidak selalu linier karena setiap individu bisa berbeda-beda mengalami tahap-tahap tersebut. Bahkan bisa kembali ke tahap sebelumnya sebelum mencapai penerimaan. Itu berarti tahapan ini bersifat fleksibel dan proses 'tawar menawar' menjadi hal yang penting disini. 

Sebagaimana yang dialami anak kecil itu, ekspresi dan tatapannya menggambarkan ketidak terimaan pada kejadian yang telah terjadi, "mengapa harus jatuh? seandainya aku duduk ditempat lain, jika aku lebih waspada makananku akan aman," mungkin itu yang terceletuk olehnya. Namun, ketika fakta mengabarkan makanan berserak ditanah samping kakinya, misuh menjadi sebuah simbol yang menunjukan amarah pada fakta yang terjadi, atau respon terhadap kejadian yang tidak mengenakan tersebut. Kemudian, ketika ia memungut kembali dan membersihkan makanannya yang jatuh adalah bentuk kesepakatan dan awal dari penerimaan. Seolah-olah sebelumnya telah terjadi tawar-menawar dalam menilai fakta tersebut "tidak apa-apa temanku mungkin tidak sengaja" ketika temannya datang meminta maaf, "makananku masih bisa aku makan dan aku masih bisa lanjut bermain" ketika ia memaafkan dan tidak membesarkan amarahnya. Dan sikapnya yang tetap berperilaku baik dengan temannya dan tidak menjadikan permasalahan semakin besar adalah gambaran bahwa ia berhasil memenangkan penawaran yang baik. Disinilah tahap penerimaan terjadi. Jangan tanyakan padaku dimana letak tahap Depresi?, aku masih bingung menggambarkannya, mungkin aku tidak melihat, mungkin itu tidak terjadi, karena aku hanya mengamati dalam sekali waktu. Namun, seperti sewajarnya anak-anak, mereka tidak membawa permasalahan ketika bermain secara berkepanjangan. 

Anak kecil yang bermain adalah kita dengan kehidupan secara lebih kompleks. Namun, ketika ada kejadian atau peristiwa yang dirasa kurang mengenakkan, entah itu dalam perkuliahan, pekerjaan, pertemanan, organisasi, dan sebagainya, berusaha seperti sebagaimana anak keci bersikap dengan sesederhana saya rasa adalah hal yang lebih baik. Yaitu dengan memperhatikan langkah, sehingga kita tidak dibuat pusing berputar maju mundur terjebak pada tahap sebelumnya dan tidak sampai-sampai pada tahapan terakhir yaitu penerimaan.

Sebuah pelajaran yang mungkin dapat kita petik bersama, bahwa, dalam hidup kita semua pasti pernah mengalami saat-saat pahit. Namun, seperti anak kecil yang dengan cepat memaafkan dan melanjutkan permainan, kita pun harus belajar menerima kenyataan dan kembali melanjutkan. Seperti yang diajarkan oleh Bu Kubler, setiap tahap dalam hidup ini adalah bagian dari perjalanan, dan yang terpenting adalah bagaimana kita melangkah maju dengan bijak. 

Begitulah kisah kecil sore itu, kulihat kembali jarum menit jam tanganku telah sampai pada dua angka setelah dua belas dan jam mulai mendekati angka enam, sekarang pukul 17.10, permainan bola telah dimulai. Sepak bola sederhana telah dimulai, dengan dua gawang yang lebarnya +- 2 meter terbuat dari sendal selop hitam yang prediksiku milik salah satu pemain,..yaa mana mungkin mereka meminjam sandal tukang cilok atau sandal masjid :D.

Aku sendiri yakin bahwa semua orang pernah mengalami setidak-tidaknya satu kali kejadian yang terasa sangat pahit, pedih, didalam hidupnya. Jika mereka berkata "aku tidak pernah", itu berarti ia selalu memenangkan langkah-langkah itu. Untuk menerima kenyataan pahit, mereka, masing-masing memiliki kecepatan dan prosesnya sendiri, ada yang secepat anak kecil dan mereka lanjut bermain, ada juga yang melewati dengan langkah berbeda. Ingatlah bahwa roda kehidupan belumlah berhenti, dan mari sadari itu bersama. 

Tak terasa sudah larut, maka akan ku akhiri tulisan ini dengan sedikit apresiasi dan afirmasi, "Selamat atas keberhasilanmu......apapun itu, fase terakhir adalah puncak kebebasan!, tidak ada yang lebih berharga dari semua proses yang telah kamu lalui, terlepas atas semua kebanggaan dan keberhasilan ini, sekarang bersiaplah! bersiaplah sebagaimana dunia telah bersiap menyambut kedatanganmu kembali".



Kübler-Ross, E. (1969). On Death and Dying. Macmillan.