Prolog
Sore ini, hari Senin, 10 Agustus 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, acara kolaborasi antara Galuh Patria + Robot Bambu + Segitiga Cafe yang menghadirkan narasumber bapak Dr. Fahrudin Faiz (beliau seorang Dosen, Penulis, dan Pakar filsafat) dan mengangkat judul/tema: Sebuah Notulen: "Kejogja Apa yang Kau cari? antara Cita-cita, Proses, dan Realita".
Isi
Apa yang kita cari di Jogja, tidak tergantung pada Jogjanya. Sebagaimana pak Faiz dulu. Sekitar tahun 93-an, tanpa cita-cita, atau target. Jawaban seperti mencari ilmu, mengejar cita-cita, SERINGKALI JAWABAN NORMATIF.
Berjalan: tau jelas arahnya, tujuannya. Mungkin, sebagian besar kita terjebak dilevel bergerak.
Ada tokoh Erik Ericson ... punya teori tipe:
1. Identity Achieve: sudah tau arah tujuannya.
2. For clouser: baru tahu kejogja itu baik, mungkin orang tua atau kebanyakan orang menganggap jogja lebih baik dari tempat asalnya. Tipe ini adalah tipe orang yang terombang ambing. Mengikuti rekomendasi luar.
3. Moratorium: kalau ditanya, kenapa ke jogja? saya belum tau, saya lagi mencari. Sedang dalam proses memahami. Jogja ini dapat saya gali dari segi apanya.
4. Difusion: mereka tidak tahu kemana tujuannya, ke jogja tidak tau apa-apa, baiknya jogja apa tidak tahu. Niatnya si cari ilmu, tapi rasanya tidak dapat apa-apa.
JAWABLAH DIMANA POSISI KALIAN? AGAR TAHU APA YANG KITA CARI DI JOGJA.
Tokoh cerita suatu tokoh filosof.... ia naik bus, didalamnya enak fasilitasnya ac dan serba canggih, tapi tidak tahu bus nya mau kemana.
Ilmu seperti fasilitas di bus, di jogja banyak yang menarik. Tapi, terus buat apa?. Mau kamu arahkan kemana?. Menurut Pak Faiz itu lebih penting dari fasilitas di dalamnya.
Masing-masing tipe punya cara menyikapinya masing-masing, Tipe:
1. Perlu komitmen
2. Perlu kritis
3. Perlu lebih serius, agar ketemu, jangan terlalu buang waktu sia-sia untuk hal yang tidak jelas. Karna terpeleset sedikit jatuh ke tipe 4
4. Perlu rem/ jeda sejenak untuk merefleksikan diri, untuk menemukan arah, dsb.
Untuk teman-teman yang salah jurusan
1. Ingat, kalian bukan paket jadi, mungkin sekarang merasa kurang cocok, bukan passion. Tapi, passion bukan harga mati. Bisa disesuaikan, bisa diarahkan, kadang kala perlu adaptasi. Manusia tergantung pada apa yang ia biasakan. Analogi; orang yang punya mobil, tapi tidak suka mobilnya, bukan berarti mobil tersebut tidak dijalankan. Sebagaimana Pak Faiz, yang awalnya tidak merasa passion di filsafat di zamannya, namun tetap beliau jalani. *Kuncinya di Kemauan.
2. Kalau sangat menyiksa, tidak ada keinginan untuk menyesuaikan sama sekali, kadang kala perlu reset-reinstall-repair. Mungkin, mencoba jurusan yang baru, daripada melanjutkan hanya buang-buang biaya-waktu-merugikan, alangkah baiknya start ulang. Nabi Nuh A. S. beliau diperintah membuat kapal diusia tua, itu menjadi sebuah misi yang baru. *Kuncinya di Kemampuan.
TENTU PERLU MENGETAHUI SITUASI YANG MAMPU DAN MUNGKIN DILAKUKAN, JUGA SEBALIKNYA.
Setiap aktivitas yang baik perlu niat yang baik. Niat yang paling baik adalah Lilahi ta'ala.
Bagaimana cara memastikannya sudah Lillahi ta'ala:
1. Tidak yang dilarang oleh Allah
2. Mendukung kedekatannmu dengan Allah
KAPAN TUJUAN SUDAH DITEMUKAN? TUJUAN TIDAK DICARI NAMUN DITETAPKAN.
SETIAP KEPUTUSAN ADA BAIK-BURUKNYA, MENJADI KURANG BAIK KETIKA TERJEBAK DALAM MENENTUKAN PILIHAN.
Epilog
Sebagai penutup,
Pak Faiz berpesan:
Awali semuanya dengan self-awareness/ sadari dirimu - orang yang menyadari dirinya mempermudah menentukan pilihannya, menetapkan tujuan-tujuannya. Sebelum semua dimulai awali dengan pengenalan diri.

0 Comments
Posting Komentar