Sang Pembawa Api dan Lima Desa
Dahulu kala, ketika dunia masih diselimuti kegelapan, hiduplah seorang pengembara yang dikenal sebagai Sang Pembawa Api. Api yang dibawanya bukanlah api biasa. Nyalanya tidak sekadar menghangatkan tubuh atau menerangi malam, api itu melambangkan pengetahuan yang mampu membuka pikiran, mengubah cara hidup seseorang.
Sebelum mengembara, ia mendapat pesan dari gurunya, "Bawalah api ini ke lima desa. Jangan hanya berikan apinya, tetapi perhatikan bagaimana mereka menerimanya, karena di sanalah engkau akan memahami makna dari api itu."
Singkat cerita, sampailah Sang Pembawa Api ke desa pertama. Bagaimana ia disambut?
Penduduk di Desa pertama menolak kedatangannya. Para tetua desa berkata, bahwa leluhur mereka telah hidup tanpa api selama berabad-abad sehingga mereka tidak membutuhkan sesuatu yang baru. Mereka menganggap api itu hanya akan mengganggu tradisi yang telah lama dijalankan. Dengan respon yang jauh dari kata keterbukaan, Sang Pembawa Api pun pergi meninggalkan desa itu tanpa meninggalkan nyala sedikit pun. Tahun demi tahun berlalu, desa itu tetap hidup dalam keterbatasan, bukan karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang baru, melainkan karena mereka memilih menutup diri terhadap perubahan.
Dengan langkah yang mantap Sang Pembawa Api membawa langkahnya ke desa berikutnya. Sesampainya di desa kedua, Sang Pembawa Api justru disambut dengan meriah. Penduduk mengaraknya keliling desa, memujinya sebagai orang paling bijaksana, bahkan membangun sebuah patung dan monumen untuk mengenangnya. Namun, ketika ia mengajak mereka mempelajari cara menyalakan dan merawat api, hampir tidak ada yang datang, tidak ada yang tertarik dengan itu. Semua orang disana lebih sibuk mengagungkan pembawa api daripada mempelajari bagaimana api itu sendiri. Ketika Sang Pembawa Api melanjutkan perjalanannya, desa tersebut tetap berada dalam kegelapan, meskipun patung berdiri megah dan meriah di tengah alun-alun.
Jalan terjal tak menghentikan langkahnya, sampailah Sang Pembawa Api di desa selanjutnya. Desa ketiga ini penduduknya menerima api dengan penuh antusias. Akan tetapi, kepala desa memutuskan untuk menyimpannya di rumahnya sendiri. Menurutnya, api itu terlalu berharga untuk dimiliki semua orang. Hanya para pemimpin yang diizinkan memiliki api itu sepenuhnya, sementara rakyat biasa tetap bekerja dengan cara-cara lama. Api memang tetap menyala, tetapi hanya menerangi segelintir orang. Desa itu tidak pernah benar-benar berkembang karena cahaya tidak pernah menjangkau seluruh masyarakat. Singkat cerita, Sang Pembawa Api merasa cukup dengan desa ketiga, ia melanjutkan perjalannya menuju desa keempat sebagai desa berikutnya.
Desa keempat berbeda dengan desa ketiga. Penduduknya cepat mempelajari cara menggunakan api dan berhasil menciptakan berbagai alat yang membuat mereka lebih kuat daripada desa-desa lain. Namun, api itu justru dipakai untuk menindas, memperdaya, dan mencari keuntungan bagi diri sendiri. Api yang semula dimaksudkan untuk menerangi kehidupan berubah menjadi alat keserakahan. Alhasil kepulan asap menyelimuti awan, api berkobar dimana-mana, rumah-rumah terbakar, ladang dan ternak berkobar terlahap api, jika itu perubahan diibaratkan desa yang berubah menjadi arang. Semua penduduk menguasai api itu, namun semakin besar api yang mereka miliki, semakin besar pula kerusakan yang mereka timbulkan karena mereka tidak bijak dalam menggunakannya. Apa daya ketika Sang Pembawa Api hendak mengingatkan malah dibuatnya hendak dibakar hidup-hidup. Dengan kondisi demikian, Sang Pembawa Api memilih untuk meninggalkannya dan melanjutkan perjalanan menuju desa kelima sekaligus menjadi desa terakhir.
Akhirnya tibalah Sang Pembawa Api di desa kelima. Penduduk desa itu menerima api dengan rendah hati dan rasa ingin tahu. Mereka tidak hanya belajar menyalakan api, tetapi juga saling mengajarkan cara menjaganya agar tidak padam. Orang tua mengajarkan kepada anak-anak, para pengrajin berbagi keterampilan dengan tetangganya, dan siapa pun yang menemukan cara baru segera membagikannya kepada yang lain. Mereka percaya bahwa api itu tidak akan berkurang ketika dibagikan, justru akan semakin berkembang dan memberi manfaat bagi banyak orang. Api yang semula hanya sebagai sumber penerangan kini turut membantu kehidupan sehari-sehari mereka. Dan lambat laun desa itu menjadi makmur, bukan karena memiliki api yang paling besar, melainkan karena setiap orang turut menjaga nyalanya. Bahkan api
Misi dari gurunya telah selesai, kini Sang Pembawa Api berkeinginan untuk melanjutkan pengembaraannya. Sebelum pergi Sang Pembawa Api meninggalkan pesan,
Api ini adalah pengetahuan. Ia dapat ditolak, dipuja tanpa dipahami, disimpan hanya untuk segelintir orang, disalahgunakan untuk kepentingan diri sendiri, atau dipelajari dan dibagikan demi kebaikan bersama. Masa depan sebuah masyarakat tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya pengetahuan, melainkan oleh bagaimana mereka memperlakukan pengetahuan itu.
Sejak saat itu, kisah tentang lima desa menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan hanya akan menjadi cahaya apabila dipelajari dengan kerendahan hati, digunakan dengan kebijaksanaan, dan dibagikan demi kemajuan bersama.
0 Comments
Posting Komentar