Berkali-kali aku datang, dia selalu mengingatkanku setiap minggunya. Meluruskan rasaku, keberadaanku, dan alasanku. Seolah ia menyampaikan beberapa patah kata "Benahi lagi fokusmu, Ya jangan kepadaku, jangan cuma karena pengen liat aku, jangan karna cuma pengen denger aku ngomong, karena disini aku sama sepertimu, hanya bedanya saat ini aku yang lebih banyak bicara dan kamu yang lebih banyak mendengarkan, sebenarnya yang harus banyak bersyukur adalah aku, disini aku jadi lebih banyak belajar, karena ini aku mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan wawasan, sebetulnya aku merasa senang karena kamulah bahan bakarku untuk menambah wawasan, kalian semua". Dari pernyataannya yang seperti panjang namun terasa singkat, aku menyimpulkan bahwa salah satu niat utama seorang murid adalah belajar dari gurunya. Dan kala itu juga, ku anggap ia sebagai guru, tak apa meski hanya sebatas sebuah anggapan, setidaknya tak lupa akan sebuah pelajaran.
Menyampaikan pesan pelurus (tentang sebuah niat)
Apakah kalian pernah mendengar bahwa kita bisa belajar dari apa saja, dari hal-hal yang tidak terduga, asalkan kita mau. Ya aku setuju dengan pernyataan tersebut. Bahkan yang tuhan sampaikan pada salah satu ayat di surah al-Baqarah dalam Al-Qur'an, bahwa Ia tidak merasa segan memberi contoh perumpamaan dari hal-hal kecil yang kiranya sering dianggap sepele seperti seekor nyamuk. Bahkan seekor nyamuk dapat (menjadi media) menyampaikan pesan pembelajaran.
Mungkin jika nyamuk itu sampai kepadaku, akan kupanggil ia guru (guru kepercayaan) dan mungkin ketika itu mungkin adalah pertanda waktu belajar telah dimulai. Maka mari kita luruskan kembali niat yang kita miliki, jika sudah punya tapi terlanjur bengkok, itu belum terlambat untuk ayo luruskan kembali, jika belum ada yang bisa diluruskan, tidak apa, ayo kita niatkan sebuah niat yang lurus. Luruskan antara niat didunia dan setelahnya. Dan gabungkan menjadi satu.
Wallahu a'lam bishawab.
0 Comments
Posting Komentar