dsd
"Penyesalan membawa kesedihan, kesedihan menyeret kebahagiaan"


Aku benar-benar lupa dengan jalan itu, jalan mana yang telah aku lewati, padahal aku sendiri yang memilih dan aku sendiri yang melewatinya!

Jalan ini aku sendiri yang memilih dan aku sendiri yang menentukan. Lalu kenapa aku harus menyesal? seharusnya aku sudah siap dengan konsekuensinya. Jika sebab sudah diambil seharusnya aku siap dengan akibatnya. Jika langkah satu dan langkah dua telah ku lewati tentu langkah ketiga dan keempat akan menyambutku di depan.

Misal ada seorang anak ingin pergi ke desa sebelah, untuk menuju kesana ada dua cara yaitu lewat jalur belakang dan jalur depan. Jalur belakang adalah jalur yang jarang dilewati orang, sedangkan jalur depan adalah jalur yang sering dilewati orang sehari-hari. Tentu jalur yang dilewati orang sehari-hari lebih baik, mudah, bagus, bersih, dan lebih aman, namun harus sedikit memutar lebih jauh. Sedangkan jalur yang jarang dilewati adalah jalur yang kotor, sempit, sedikit berbahaya, tapi jaraknya lebih dekat. Jika aku melewati jalur depan maupun belakang, harusnya aku siap dengan apa yang akan menyambutku.

Tapi kenapa aku menyesal? jika aku bertanya ini salah siapa, tentu ini adalah salahku, karena ini pilihanku. Aku sendiri yang memilih tanpa paksaan dari orang lain. Ya memang orang lain membantuku menemukan pilihan, dan tentu saja aku sendiri yang memilih. Ini bukan berarti tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu dikoreksi. Mungkin saja aku salah jalan dan salah kendaraan. Maka, sebaiknya aku bertanya pada seseorang tentang jalan mana yang dapat mengantarkan menuju tujuan dan aku harus naik apa untuk kesana?. Mereka yang ahli jalan dan tau tentang kendaraan dapat sangat membantu.

Jika aku masih menyesal berarti ada sesuatu yang salah pada diriku dan pilihanku. Salah satu penyebab pada diriku adalah, aku masih kurang bersyukur, rasa syukurku masih terlalu tipis, dan semoga masih bisa dirajut hingga tebal. Dan yang salah pada pilihanku, bisa jadi yaitu pilihan yang ku ambil tidak benar, bertentangan dengan aturan, menyimpang terlalu jauh. Selain itu, mungkin saja aku menemukan sebuah pilihan baru yang kala itu kuanggap lebih baik dari pilihan yang sebelumnya, namun aku tidak mengubah pada pilihan yang baru.

Misal saja ada seorang anak ingin pergi ke desa sebelah. Desa itu berdempetan dengan desa tempat ia tinggal, hanya saja dipisah oleh sungai besar yang panjang. Desa itu ada diseberang sungai, untuk menuju desa sebelah ada dua cara yaitu menggunakan rakit kecil yang reyot atau melewati jembatan besar bagus yang terletak jauh dan harus memutar jika melewati jembatan itu. Tapi kemudian ditempat terdekat telah dibangun jembatan baru. Apakah anak kecil itu tidak merasa bersusah payah ketika tidak melewati jembatan baru itu? 

Pandangan baru berusaha mengubah pandangan lamaku. Tapi apakah aku dengan mudahnya mengubah pandangan begitu saja. Tentu tidak, harus aku lihat dengan jelas terlebih dulu. Mana bisa aku mengikuti sesuatu yang buram dalam waktu lama.

Ketika aku melihat sesuatu yang benar dari orang lain. Akankah aku mengubah pandanganku begitu saja, tentu saja tidak. Aku masih harus mempertimbangkan kebenarannya apakah itu sesuai dengan diriku atau hanya sesuai dengan diri orang lain.

Benar apa yang pernah Rumi katakan, "Sekalipun tabir tersingkap keyakinanku tidak akan bertambah". Jika saja keyakinanku masih bertambah, itu berarti masih ada hal tersembunyi yang belum terlihat.

Keyakinan ku tidak akan bertambah jika satu kebenaran telah membuka hijabnya. Jika esensi telah ditemukan maka yang lain hanyalah tumpukan daun yang menyelimuti tanah. Jika esensi memang benar-benar telah ditemukan maka tanah hanyalah selimut bagi bumi.

Tapi apa daya jika belum ditemukan dan aku berputus asa ditengah jalan. 


"Aku mohon kepada engkau Wahai Sang pengatur, sekaligus yang menjaganya, dan Sang pemilik keindahan disebaliknya. Ijinkanlah aku, tuntunlah aku, dan jangan biarkan aku terdiam dalam jurang keputusasaan"


Sungguh raja telah menyediakan bermacam-macam jalan untuk dilalui, kiri-kanan, depan-belakang, halus-kasar, menanjak-menurun, berliku-lurus, beraspal-bebatuan dan aku sendiri yang memilih untuk melewatinya.